Tampilkan postingan dengan label first story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label first story. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 September 2017

Pembuatan Surat Keterangan Sehat Jasmani Rohani di RSSA, Malang

Syarat administrasi untuk melamar pekerjaan terkadang membutuhkan Surat Keterangan Sehat Jasmani dan Rohani. Biasanya, yang diminta untuk syarat adalah surat dari rumah sakit minimal kelas C yang bisa melayani pembuatan surat ini, namun ini juga tergantung pada syarat itu sendiri. Mungkin di puskesmas juga bisa, atau di klinik tertentu. Kota Malang sendiri, setelah googling-googling, untuk rumah sakit pemerintah sepertinya bisa ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA). Akhirnya saya memutuskan untuk membuat surat tersebut di sana.

Alur untuk memperoleh surat ini tidak terlalu sulit sebenarnya. Cukup datang ke RSSA, mendaftar di pendaftaran umum untuk mendapat kartu pasien, kemudian mendaftar lagi di Poli General Check-Up. Setelah itu kita harus membayar biaya pendaftaran di pendaftaran umum lagi, diarahkan ke sebuah ruangan untuk didata, kemudian kembali lagi ke Poli General Check-Up.

Poli General Check Up
Surat Keterangan Sehat Jasmani diperoleh setelah melakukan pemeriksaan seperti saat membuat surat keterangan sehat pada umumnya di puskesmas atau dokter. Timbang badan, ukur tinggi, tensi, dan pertanyaan-pertanyaan kesehatan. Sebentar saja.

Setelah itu, untuk mendapatkan Surat Keterangan Sehat Rohani saya diarahkan ke Poli Jiwa (serem yak) untuk melakukan tes psikologi. Nah ini yang makan waktu lama. Ada kuesioner dengan 90an pertanyaa yang harus dijawab dengan skala likert (semacam tidak pernah, kadang, sering, sering sekali). Ada gambar-gambar berpola (ughhh). Terakhir adalah tes menggambar. Sebenarnya saya sedang kurang sehat, jadinya saya mengerjakan sekedarnya saja. Masa iya nanti saya nggak sehat rohani, saya kan warga negara yang baik dan taat hukum dan tidak punya musuh. Selesai.

Hasil tes baru bisa diambil 3 hari kemudian. Ada 2 surat, yaitu surat keterangan sehat jasmani dan surat keterangan sehat jasmani. Hasil tes bisa dilegalisir rangkap 5, gratis. Tapi fotokopian di RSSA sangat antri, harap bersabar. Legalisir bisa dilakukan di lantai 3, tinggal bilang sama satpam di sana, ditunggu sebentar saja sudah jadi. Tidak ada masa berlakunya, tapi surat keterangan sehat jasmani biasanya memang hanya sebentar saja.

Minggu, 05 Juli 2015

Pengurusan Kartu Kuning (AK.1) di Dinsosnakertrans Pacitan

Saya telah membahas soal pembuatan SKCK di posting ini. Kali ini, saya akan membahas soal pembuatan kartu kuning alias kartu pencari kerja alias AK.1. Kartu ini biasanya digunakan untuk melamar kerja, utamanya untuk melamar CPNS.

Syarat pembuatan kartu kuning ini adalah ijazah dari tiap jenjang sekolah (SD - pendidikan terakhir), fotokopi KTP, fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan foto ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar. Prosesnya cukup mudah dan cepat (dan gratis). Tinggal menyerahkan berkas-berkas tersebut, kemudian kartu kuning kita akan diisi oleh petugas (tulis tangan). Tandatangan, tempel-tempel foto, selesai. Kartu ini boleh dilegalisir maksimal 5 lembar.

Kartu kuning berlaku selama 2 tahun, dan harus lapor setiap 6 bulan sekali bila belum memperoleh pekerjaan. Begitulah, semoga bermanfaat

Pengurusan SKCK di Polres Pacitan

Saya telah wisuda tanggal 19 Mei 2015, dengan masa studi 4 tahun 8 bulan, artinya lebih dari 4 tahun dan kurang dari 5 tahun. Bolehlah ditolerir hahaha. Nah, sebagai sarjana muda, saya akan memiliki kegiatan baru yaitu mencari pekerjaan. Searching sana searching sini, saya jadi tahu kalau berkas penting yang sering dibutuhkan adalah SKCK dan Kartu Kuning.

Saya penduduk Pacitan meskipun kuliah di Jogja, maka mengurus dua kartu tersebut harus dilakukan di tempat asal saya. SKCK urusannya dengan polisi, sementara Kartu Kuning urusannya dengan Dinsosnakertrans. Pembahasan kali ini adalah tentang SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Salah seorang teman saya bilang kalau SKCK bisa diurus di Polsek maupun di Polres. Bedanya yaitu untuk melamar kerja di swasta cukup pakai SKCK dari Polsek, sementara untuk melamar kerja di negeri, misalkan PNS, pakainya SKCK dari Polres.

Syarat pembuatan SKCK :
Syarat pembuatan SKCK yang ditempel di Polsek Pacitan (Bimo, 2015)
Tahap 1, membuat surat pengantar. Surat pengantar pada gambar di atas adalah dari Desa / Kelurahan, namun pembuatannya harus dimulai dari RT. Jadi pertama minta surat pengantar dari ketua RT, ditandatangani juga oleh ketua RW, baru lanjut ke kelurahan. Surat pengantar dari kelurahan sebenarnya prosesnya cukup cepat asal surat pengantar dari RT dan RW lengkap, plus fotokopi KTP, hanya saja antri dilayaninya yang agak lama. Sebenarnya ini proses yang (seharusnya) gratis, tapi di kelurahan saya disediakan kotak amal :D . Oleh pihak kelurahan, saya disuruh memintakan tandatangan lagi ke kecamatan. Oh begitu toh. Untuk kecamatan Pacitan, proses ini gratis.

Tahap 2, mencari surat dari Polsek. Seperti sudah disebutkan di awal, untuk yang melamar kerja di swasta sampai di Polsek saja sudah cukup. Tapi saya pikir karena saya perlu jaga-jaga, maka saya memutuskan untuk lanjut ke Polres saja. Surat dibuatkan, syarat-syarat lengkap distaples dengan surat tersebut, lalu bayar 10.000. Lanjut Polres.

Tahap 3, mengajukan permohonan SKCK ke Polres. Proses yang dilalui setelahnya antara lain rumus sidik jari dan mengisi kuesioner. Semua proses cepat, yang lama tetap antrinya :D Setelah diproses dan jadi, saya boleh legalisir maksimal 8 lembar. Untuk biaya saya agak lupa, sepertinya antara 10.000 - 20.000.

Pengurusan SKCK ini saya mulai dari kelurahan, karena surat pengantar RT dan RW sudah saya lakukan hari sebelumnya. Saya mulai di kelurahan sekitar pukul 08.00, dan selesai semuanya kira-kira pukul 13.00. Begitulah pengalaman saya mengurus SKCK. Semoga bermanfaat.

Kamis, 31 Juli 2014

Pindah DPT (Daftar Pemilih Tetap) Pilpres 2014

Indonesia menyelenggarakan pemilu presiden langsung pertama pada tahun 2004. Waktu itu, calonnya adalah Hamzah Haz-Agum Gumelar, Amien Rais-Siswono Yudohusodo, Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, Wiranto-Salahuddin Wahid dan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Pemilu berlangsung dua putaran, putaran kedua diikuti pasangan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi dan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Presiden dan wakil Presiden terpilih periode 2004-2009 adalah Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

Pemilu presiden 2009 diikuti oleh tiga pasangan calon, yaitu  Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto. Pemilu ini berlangsung satu putaran dan presiden - wakil presiden periode 2009-2014 dimenangkan oleh pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Dengan demikian, Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden Indonesia selama 2 periode (2004-2014).

Pemilu presiden 2014 merupakan pilpres yang sangat sengit, seperti yang sudah saya tulis. Pilpres dilaksanakan tanggal 9 Juli 2014, di tengah-tengah Ramadhan. Saya belum lama pulang sebelum tanggal itu, sehingga saya agak malas untuk pulang kembali cuma untuk mencoblos. Saya memutuskan untuk pindah tempat memilih, atau pindah DPT (Daftar Pemilih Tetap). Info yang beredar, kita bisa langsung mengurus ke kelurahan tempat kita tinggal dengan membawa fotokopi KTP. Ada juga dengan cara meminta form A5 ke KPUD setempat.

Tanggal 28 Juni 2014, saya pergi ke kelurahan Caturtunggal yang lokasinya ada di belakang Yogyakarta Plaza Hotel. Petugas KPPS punya ruangan sendiri, ternyata untuk mengurus perpindahan DPT harus mengurus form A5 ke KPUD Sleman, yang lokasinya berada di kompleks PEMDA Sleman.

Pertama kali yang harus dilakukan di KPUD adalah mengisi formulir. Sediakan juga fotokopi KTP. Setelah itu, saya antri untuk memasukkan formulir dan KTP tersebut. Saya antri lagi untuk menunggu dipanggil saat form A5-nya jadi. Sumpah, ini antrinya lama banget. Itungannya jam. Ternyata animo para perantau untuk mencoblos tinggi juga.

Oh. Saya dipanggil. Petugas KPUD yang memberikan form A5 saya menjelaskan bahwa kelurahan tempat saya berdomisili (Caturtunggal) sudah penuh semua TPS-nya, sehingga saya harus mencoblos di kelurahan tetangga yaitu Condongcatur. Nah, untuk lokasi pastinya, saya harus ke kelurahannya langsung. Saya putuskan untuk ke kelurahan Condongcatur esok harinya.

Kantor Kelurahan Condongcatur berlokasi di dekat beringin timur jalan sebelum Terminal Condongcatur. Karena saya dari arah Jalan Gejayan, saya harus menyeberang ke kanan. Kantornya tidak begitu ramai, tapi ternyata ada juga yang mengurus perpindahan DPT seperti saya. Saat tiba giliran saya, saya duduk, ditanyai sedikit, dan akhirnya memilih lokasi TPS. TPS yang dipilihkan sebisa mungkin paling dekat dengan domisili. Pada akhirnya, saya mencoblos di TPS 77 Pringwulung.

Tampilan Form A5 yang harus saya bawa saat mencoblos

Tanggal 9 Juli 2014, saya berangkat sekitar pukul 09.00, karena saya belum tahu benar lokasi TPS 77 ini. Sebenarnya, saat di kelurahan Condongcatur bapak petugasnya sudah bilang soal Jembatan, tapi karena bayangan saya Pringwulung itu di Kampung Kuliner Pringwulung, akhirnya saya (ditemani Intan, teman kos saya) berkeliling di daerah Selokan Mataram itu. Setelah kesana kemari, ternyata TPS 77 itu lokasinya tepat di timur Jembatan Gajahwong, yaitu di sebuah balai pertemuan. Hadeuh, saya sudah lewat tempat ini sebelumnya -_- malah bablas.

TPS 77 sudah sepi, tinggal beberapa orang duduk-duduk di depan balai pertemuan, tapi petugas di dalam masih siaga. Saya menyerahkan form lalu masuk ke bilik suara. Saat itu saya masih bingung harus mencoblos siapa. Setelah berpikir sebentar, saya memutuskan untuk mencoblos nomor * (sensor). Masukkan surat suara yang sudah dilipat ke kotak suara, celupkan jari ke tinta pemilu. Selesai.

Oh iya, di TPS asli saya (TPS 4 Sidoharjo, Pacitan) Prabowo menang. Sementara itu di TPS saya mencoblos (TPS 77 Condongcatur, Sleman) Jokowi yang menang. Yah, siapapun presidennya nanti, semoga Indonesia jadi jauh lebih baik.

Kamis, 17 Juli 2014

Menikmati Buka Puasa di Masjid Kampus UGM

Ramadhan ini saya menyempatkan diri untuk menikmati suasana Jogja di tahun terakhir saya kuliah (huhuhu). Rencana-rencana untuk menjadi laskar PPT (Para Pencari Takjil) bermunculan. Sebenarnya, setiap Ramadhan saya pasti sempat berada di Jogja, tapi dulu-dulu saya tidak menikmati karena kebelet pulang :)

Ngomong-ngomong, puasa di kosan jadi istimewa karena ada si IS yang juga ada di sini. Kami sedang berjuang melawan sweetie-sweetie yang menghujam ke ulu hati. Tahun terakhir coy, apalagi selain yang satu itu tuuuh ^^. Eniwei, karena ada temannya, saya jadi nggak kesepian dan nggak kebelet pulang. Cari buka bareng, masak sahur bareng, uwaw banget. Sempet juga dorong motor jam 3 pagi gara-gara Onda ban belakangnya bocor T^T.

Terus, bagaimana dengan rencana laskar PPT-nya? Tak mudah menjalankannya, karena beberapa pertimbangan.
1. Kita datang jam berapa?
2. Ikut kajian sebelum buka nggak?
3. Sampai sholat tarawih nggak?
4. Penuh banget nggak?
5. Dst, dsb.

Kemudian, tepat pada tanggal 15 Ramadhan 1435H alias tanggal 13 Juli 2014 saya dan IS
 benar-benar menjalankan misi pertama laskar PPT. Targetnya adalah Masjid Kampus UGM yang setiap tahunnya mengadakan Ramadhan Di Kampus (RDK) dan memberikan 1000 porsi buka gratis. Kami berangkat sekitar pukul 5 sore. Kajian buka puasanya belum selesai. Kami ikut duduk dan mendengarkan meskipun sedikit clueless dan hearless. Ada ibu-ibu yang baru datang juga dan duduk di sebelah saya. Tidak lama kemudian putranya datang, ngasih kupon ke ibunya. Tulisannya KUPON BUKA BERSAMA. Saya dan IS berpandangan. Oh, ternyata harus ngambil kupon?
"Dek, itu ambilnya di mana ya?"
"Di depan situ tadi."
Jadilah kami bangkit, mencari dimana kupon itu dibagikan. Memang, kami tadi masuk ke masjid lewat pintu sebelah utara (anggap saja begitu) dan ternyata kuponnya dibagikan di pintu masuk sebelah timur. Kupon dibagikan oleh akhi dan ukhti panitia. Tentu saja kami mengambil dari ukhtinya :). Setelah mendapat kupon, kami kembali duduk dan mendengarkan pengajian sampai selesai.

Pengajian selesai, para jamaah berbondong-bondong keluar dari masjid. Pasti mereka mau ambil buka ^^. Kami mengikuti langkah para jamaah itu. Panitia membagikan teh hangat dan nasi bungkus. Cukup berdesakan, tapi bisalah ditahan. Saya mengambil teh, IS mengambil nasi. Kami duduk di teras, menunggu adzan Maghrib. Orang-orang juga mengambil tempat masing-masing, ada yang di teras, bahkan di halaman masjid sambil menggelar tikar bagaikan piknik. IS berkali-kali bilang, "Wah, cool. Daebak". Memang pemandangan yang mengesankan sih.

Adzan Maghrib berkumandang. Kami menyeruput teh hangat. Alhamdulillah. Kami membuka bungkusan nasi. Lauk ayam, ada sayur brokolinya. Saya sempat ragu langsung makan atau sholat dulu, namun ternyata semua orang di sekitar kami langsung makan. Kami mengikuti. Setelah habis, semua mulai beranjak untuk sholat Maghrib berjamaah. Seperti biasa jamaah putri sholat di lantai 2. Kami sepakat untuk sekalian sholat tarawih di sana, jadi setelah sholat Maghrib kami tidak pergi dan menunggu waktu Isya.

Adzan Isya. Imamnya terlihat seperti syekh dari timur tengah. Sholatnya benar-benar berbeda dengan tarawih di deket kosan ataupun di mushola deket rumah ^^. Setelah pulang ke kos, dari salah satu facebook teman saya baru tahu kalau imamnya itu syekh dari Palestina. Sayang saya tidak sempat mengikuti pengajian setelah tarawihnya. Ceramahnya pakai penerjemah.

Tahun ini adalah tahun terakhir saya di Jogja, insyaAlloh setelah beberapa bulan lagi statusnya bukan lagi mahasiswa. Semoga dimudahkan ya :)