Tampilkan postingan dengan label informal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label informal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Januari 2018

Perpanjangan SKCK di Polres Pacitan

Beberapa tahun yang lalu, saya telah memposting mengenai cara mengurus SKCK untuk pertama kalinya di blog ini juga. Kali ini, saya akan menulis mengenai cara memperpanjang SKCK yang telah habis masa berlakunya. Masa berlaku SKCK adalah sekitar 6 bulan, dan saya memerlukan SKCK lagi untuk melamar pekerjaan setelah kontrak saya di perusahaan yang terdahulu habis.

Tidak peduli telah kadaluarsa berapa lama, kalau kita sudah pernah membuat SKCK, maka statusnya adalah perpanjangan. SKCK terakhir saya sebelum diperbarui ini masa berlakunya adalah September 2016, jadi kurang lebih setahun setelahnya saya baru mengurus perpanjangan. Dan itu tidak masalah.

Apa saja syarat untuk mengurus perpanjangan SKCK ini?

  • SKCK lama
  • Fotokopi KTP
  • Fotokopi KK
  • Fotokopi akte kelahiran (bisa diganti dengan surat pengantar dari desa)
  • Pasfoto 4x6 
Prosesnya hampir sama dengan pembuatan SKCK untuk pertama kali, yaitu dengan mengisi formulir-formulir yang diperlukan. Bedanya, kita tidak perlu lagi melakukan rumus sidik jari karena sudah ada di SKCK yang sebelumnya. Bedanya lagi, harga perpanjangan ini telah naik dari Rp 10.000,- menjadi Rp 30.000,- ahahahaha. Setelah SKCK jadi, saya kembali melakukan legalisir untuk mengantisipasi bila suatu saat akan diperlukan. Begitulah, prosesnya seharusnya singkat. Namun karena saya tidak tahu kalau membutuhkan fotokopi akte kelahiran, saya sempat bolak-balik Polres - rumah :D

Senin, 25 Desember 2017

Should I Take A Journey : Malang to Leces, Probolinggo

Liburan tahun baru baru saja lewat. Tidak istimewa sebenarnya, karena tanggal 1 Januari 2017 berada di hari Minggu. Bagi sebagian orang yang cuti bersama di tanggal 2 (Senin), itu adalah long weekend. Bagi saya yang Senin tetap masuk seperti biasa, itu adalah weekend biasa. Awal minggu terakhir di bulan Desember 2016 saya jalani seperti biasa. Kerja, ngecekin medsos, bingung mau makan malam apa, gitu-gitu terus. Apalagi si dedek lagi pekan sunyi sebelum UAS, jadi dia pulang ke Pacitan dan Malang terasa agak sepi.

Suatu malam, entah hari Selasa atau Rabu, saya melihat status BBM teman saya, teman baik saya sejak kuliah, kalau dia sedang libur dan pulang kampung ke Leces, Kabupaten Probolinggo. Ide untuk mengunjunginya tiba-tiba muncul, karena saat saya ke Jogja kemarin tidak bisa ketemu sama dia. Langsung saya utarakan, dan dia menyambut baik ide itu. Anggi, begitu saya biasa memanggilnya, bilang siap menampung saya di rumahnya. Weekend adalah satu-satunya pilihan karena libur saya memang cuma itu :D


Sabtu pagi, sekitar pukul 8.00, saya ke terminal Arjosari yang lokasinya cukup dekat dengan kos saya. Naik motor 5 menit juga sudah sampai. Motor kemudian saya titipkan di penitipan motor 24 jam yang ada banyak di sekitar terminal. Parkir menginap, tentu saja. Bayarnya sekitar Rp 10.000,- (saya lupa tepatnya. Kelamaan sih bikin ini tulisannya). Sebelumnya, teman saya sudah menyarankan untuk naik bus patas jurusan Jember saja, daripada saya harus oper bus di terminal Probolinggo. Leces sendiri letaknya memang di Kabupaten Probolinggo, sementara Terminal Bayuangga masuk di Kota Probolinggo. Jadi ada dua pilihan, naik bus Malang - Probolinggo, kemudian ganti bus jurusan Surabaya untuk ke Leces, atau langsung menggunakan bus patas Malang - Jember tapi turun di Leces. Mengingat saya jarang sekali main jauh pakai kendaraan umum sendirian, teman saya menyarankan yang kedua. Mungkin dia takut saya kesasar atau hilang hahaha.

Saya sedikit bingung untuk memilih bus, kemudian setelah beberapa teriakan dari para kondektur akhirnya saya naik ke bus patas NNR jurusan Jember. Tidak lama, bus berangkat. Saat membayar tiket, saya ikut harga ke Jember karena Leces berada di antara Probolinggo dan Jember. Rp 60.000,- seingat saya. Jika cuma sampai terminal Probolinggo, harganya + Rp 30.000,-. Saya duduk di samping seorang ibu yang mau ke Jember. Ibunya baik, banyak bercerita yang bisa dipetik hikmahnya. Saya cuma sempat tidur sebentar. Bus ini di terminal Probolinggo cuma berhenti sebentar, tidak ngetem, lalu melanjutkan perjalanan.

Foto 1. Tiket Bus AKAS NNR

Menurut ayah saya, buku tulis dari Pabrik Kertas Leces dulu cukup terkenal, seperti buku tulis Sinar Dunia sekarang ini. Saya turun di halte bus dekat Pabrik Kertas Leces (yang sekarang sudah gulung tikar) sesuai dengan saran Anggi, supaya mudah untuk dijemput. Anggi datang menjemput saya dengan motor Beat pinkeu. Ternyata rumah Anggi masih agak masuk dari jalan besar, tepatnya di Perumahan Leces Permai. Kedatangan saya disambut hangat, anggap saja rumah sendiri, begitu. Akhirnya saya bertemu langsung dengan Papa, Mama, adiknya Anggi (Ilman) dan sepupunya yang sudah sering saya dengar dari cerita Anggi. Daerah rumah Anggi cukup ramai dengan tetangganya yang lalu lalang. Sore hari, Ilman bermain ke lapangan naik sepeda, seperti umumnya anak-anak. Yah lumayanlah, saya jadi merasakan rumah (orang lain) setelah biasanya jadi anak kos (yang sebenarnya pulang hampir tiap bulan). Sore itu juga sempat ngobrol-ngobrol sama papanya Anggi sambil duduk-duduk di halaman yang teduh.

Foto 2. Gerbang Pabrik Kertas Leces

Malam harinya, kami bermaksud buat bakar-bakar berhubung lagi malam tahun baru Masehi. Ternyata nyalain apinya susah banget hahaha. Akhirnya cuma 2-3 buah jagung yang dibakar pake arang, sisanya pake teflon di dapur. Paling tidak dapat spirit tahun barunya lah ya :D Malamnya, saya tidur sama Anggi. Sempat nonton 1 Night 2 Days satu episode, kemudian kami tidur. Acara besok? Anggi ingin mengajak saya ke BJBR, tapi kalau di rumah, Anggi tidak diizinkan bawa motor jauh-jauh, sementara BJBR (Bee Jay Bay Resort) berada di Pelabuhan Mayangan, Kota Probolinggo. Akhirnya saya tidak terlalu memikirkan hal tersebut, yang jelas besok itu saya harus sudah kembali ke Malang karena lusa masuk kerja.

Pagi hari pertama di tahun 2017, akhirnya Anggi diizinkan untuk mengantar saya ke BJBR sekaligus ke terminal untuk pulang, tapi kami tetap harus naik angkutan umum hahaha. Kami berjalan kaki dari rumah Anggi ke jalan besar (Jalan Raya Leces), jaraknya sekitar 500 meter. Saya melewati sekolah Anggi dulu, yaitu TK-SD-SMP-SMA Taruna Dra. Zulaeha. Sekolah ini sebenarnya merupakan bagian dari Pabrik Kertas Leces dan tetap berjalan meskipun pabriknya sudah berhenti beroperasi karena dikelola oleh Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Keluarga Kertas Leces. Sekolah ini tergolong sekolah yang bagus di Probolinggo karena muridnya tidak hanya dari karyawan Pabrik Leces tapi ada siswa-siswa dari Kota Probolinggo juga. Dari cerita papanya Anggi kemarin, lulusan SMA Taruna Dra. Zulaeha tersebar di perguruan-perguruan tinggi top di dalam dan luar negeri. Wow.

Foto 3. Papan Nama Sekolah Taruna Dra. Zulaeha

Kami menunggu bus ke terminal di pinggir jalan. Bus-bus jurusan Surabaya banyak yang lewat, akhirnya kami naik ke bus Ladju dan berhenti di Terminal Bayuangga. Biayanya cuma Rp 5.000,- dengan perjalanan sekitar 10 menit. Lalu bagaimana caranya kami ke BJBR? Naik angkot. Ini pertama kalinya buat saya (sungguh memalukan), karena saya biasa naik motor ke mana-mana. Kami mencari angkot yang rutenya melewati Pelabuhan. Ada, kode F atau G saya lupa. Tapi masih kosong, jadi ngetemnya cukup lama. Setelah ada dua penumpang lagi selain kami berdua, angkot pun berangkat.

Foto 4. Dalam Angkot yang Melaju :D

Ternyata eh ternyata, si angkot ini nggak nganter sampai pelabuhan, cuma sampai di sebuah perempatan di mana banyak becak yang mangkal. Saya sedikit ragu untuk memakai satu becak untuk 2 orang, soalnya saya merasa kami berdua ini cukup berat hahaha. Kebetulan pak becaknya juga kelihatan sudah tua. Tapi karena Anggi bilang tidak apa-apa, akhirnya saya ikut naik. Eh baru mau naik, kami sudah hampir numplek karena posisi becaknya masih belum masuk ke jalan sepenuhnya, bagian belakang masih agak di pinggir jalan yang tanahnya lebih tinggi dari jalan. Saya sudah parno, tapi akhirnya kami berangkat juga dengan si bapak yang mengayuh pelan-pelan. Kejadian kedua adalah ketika melewati rel kereta api, mungkin si bapak kurang kuat memegang setir (?) becaknya, jadi tempat penumpangnya belok ke kiri dengan cepat ( istilah Jawa saya : monting), semacam mau jatuh juga. Astaghfirullah, deg-degan banget. Teratasi, kami jalan lagi. Pelan-pelan. Nah, di pertigaan tepat sebelum pintu masuk Pelabuhan Mayangan. ternyata macet berat. Becaknya nggak akan bisa masuk. Akhirnya saya dan Anggi memutuskan untuk jalan kaki saja dari situ.

Foto 5. Perjalanan ke Pelabuhan menggunakan becak

Maafkan kami yang berat ini pak

Setelah berjalan kaki sejauh kurang lebih 1 km, kami sampai di gerbang pelabuhan Mayangan. BJBR berada di dalam kompleks pelabuhan ini, berjalan sedikit dari gerbang pelabuhan tadi dan pintu masuk BJBR ada di kanan jalan. Tahun baru, berarti peak session. Harga tiket sedikit lebih mahal dari biasanya. Kami mendapatkan gelang plastik dan kalender 2017.

Foto 6. Tiket BJBR

Kami memilih untuk masuk ke kawasan mangrove terlebih dahulu.

Foto 6. Suasana Hutan Mangrove

Foto 7. Ada beginian, buat apa sih?
\
Semacam lounge. Di dalam area mangrove ini ada cottage-cottage. Kami haus, beli es krim. Mahal bos.

Wisata mangrove ini lebih ke wisata jalan-jalan saja, tidak begitu banyak attraction khusus. Setelah hampir menuju pintu keluar, barulah terlihat beberapa attraction yang sepertinya cukup menarik, tapi kami cukup melihat saja karena RAME BANGET. Menikmati pemandangan saja sudah cukup menyegarkan buat kami. 

Wahana Perahu Keliling
Tulisan I <3 BJBR yang rame banget


Toko Oleh-oleh


Area Gembok Cinta. Terjawab sudah pertanyaan saya di Foto 7 :D



Pintu Keluar area mangrove

Ada yang unik lagi! Masjid di tengah lautan. Wow! Keren ya! Tapi karena terlalu jauh, dan kami lihat juga ramai sekali, kami memutuskan untuk sholat di luar lokasi BJBR saja. Anggi mengusulkan untuk sholat dan istirahat di Masjid Agung Kota Probolinggo saja, sekalian jalan-jalan kan di alun-alun. Okelah, saya setuju.

Masjid di tengah laut. Unik!

Keluar dari area mangrove, terdapat semacam taman dengan bola dunia yang jadi ikonnya BJBR. Ada kolam renang berpancuran yang kebanyakan diisi sama bocah-bocah, ada area food court juga. Ada spot-spot yang asyik buat foto-foto. Lumayanlah.





Puas menikmati BJBR (yang semakin panas), kami kembali berjalan kaki ke luar. Lepas dari area pelabuhan Mayangan, sebenarnya kami berniat mencari becak lagi, namun yang pertama kali kami temui adalah becak motor (bentor). Malah enak sih haha, nggak khawatir bakalan njomplang lagi kan ya. Saya akan langsung pulang ke Malang, namun Anggi mengajak saya untuk sholat dan makan dulu di sekitar alun-alun Probolinggo (yang berseberangan dengan Stasiun Kota Probolinggo). Baiklah, saya manut saja.

Bye BJBR! Bye Pelabuhan Mayangan!

Bentor yang mengantar kami tidak berani menurunkan kami di dekat Masjid Agung, karena takut sama polisi (fyi bentor memang sering dirazia karena dia adalah motor yang dimodifikasi jadi becak bermotor). Tidak apa, akhirnya kami jalan dulu untuk makan Bakso Stasiun, yang kiosnya di pojokan Stasiun Probolinggo. Enak banget sih. Pantas ramai sekali. 

Habis makan siang dengan bakso, saya dan Anggi sholat di Masjid Agung, sambil istirahat setelah sholat. Siap-siap lagi, kemudian jalan-jalan sebentar di alun-alun. Sayang sekali saya tidak ada proofshot karena laptop tempat saya memback-up foto-foto lama rusak dan tidak bisa direcovery hiks. Baiklah, jadi setelah jalan-jalan sebentar tadi, kami kembali naik angkot ke terminal bus. Sudah waktunya saya kembali ke Malang.

Berbeda dengan saat berangkat, kali ini saya naik bus Ladju. Harga tiketnya Rp 30.000,- untuk Terminal Probolinggo sampai Malang. Busnya ber-AC juga, namun sepertinya agak lebih tua dari bus NNR yang saya naiki saat berangkat. Anggi menunggu saya naik ke bus dulu, baru dia pulang kembali ke Leces.

Tiket bus Probolinggo-Malang

Sejujurnya, saya itu agak takut naik bus sendirian, saya lebih suka naik kereta. Mungkin karena di masa lalu HP saya pernah jatuh dan hilang di bus. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau bus itu juga termasuk angkutan yang cukup ramah di kantong bila dibandingkan dengan moda transportasi umum lainnya. Yang jelas, untuk kunjungan kali ini saya berterimakasih sekali kepada Anggi dan keluarga yang telah saya repotkan.



NB : Ketika saya mempost tulisan ini, ayah Anggi yang sempat ngobrol dengan saya telah dipanggil ke Rahmatullah. Jadi kunjungan kedua saya ke Leces adalah saat bertakziah ke tempat Anggi. Mohon doanya agar ayah Anggi diberikan tempat terbaik di sisi Alloh. Al-Fatihah.


Kamis, 12 Oktober 2017

Unfinished Story : Continue It Anyway

Time flies. Seakan baru kapan saya menulis tentang dimulainya hidup baru saya di kota ini, sekarang saya sudah bisa menulis tentang perubahan yang akan saya lakukan beberapa waktu ke depan.
Kontrak saya di kantor lama sudah selesai. Kenapa tidak dilanjut? Ada banyak alasan, termasuk karena kebijakan-kebijakan kantor yang saya rasa tidak sesuai dengan diri saya setelah bekerja di sana, karena itu saya memutuskan untuk tidak meminta perpanjangan kontrak kerja. Apakah saya merasa bebas sekarang? Sejujurnya tidak juga. Saya menyukai pekerjaan saya, teman-teman dekat yang seide di kantor, dan pembahasan K-pop atau K-drama yang sering saya lakukan dengan teman-teman kantor. 



Meskipun begitu, saya merasa ini adalah jalan terbaik yang harus saya ambil. Kenapa begitu? Karena 4 bulan sebelum kontrak saya habis, sebenarnya saya sudah berniat memperpanjangnya setahun lagi. Alasannya adalah karena saya menyukai pekerjaan saya, dan juga karena leader tim saya yang akan cuti melahirkan 3 bulan. Saya tidak ingin meninggalkan teman setim saya yang sudah sangat dekat dengan saya seolah sebatangkara (halah). Saya sudah melobi ibu saya yang sebenarnya kurang setuju untuk terus bekerja di sana karena menganggap Malang terlalu jauh dari rumah, dan beberapa alasan pribadi lainnya. Akan tetapi, sebuah kejadian mengguncang saya dan mengubah pikiran saya untuk memperpanjang kontrak. Awalnya saya masih ingin bertahan, tetapi kemudian sebuah lowongan kerja yang menarik (yang diinfokan oleh sepupu saya yang masih di Jogja) benar-benar mempengaruhi pertimbangan saya.

2 bulan lebih beberapa hari sebelum kontrak saya habis, saya menghadap HRD untuk menginformasikan bahwa saya tidak akan memperpanjang kontrak. Saya juga mulai mepersiapkan lamaran kerja untuk lowongan yang saya sebutkan di atas. Setelahnya, saya masih bekerja seperti biasa. Tidak lama kemudian ada informasi bahwa pemerintah membuka pendaftaran CPNS batch 1 untuk Kemenkumham dan Mahkamah Agung. Saya mencoba, toh syaratnya mudah dan tinggal upload online saja. Pengumuman lolos seleksinya pun tepat waktu, namun saya belum lolos. Meskipun begitu, harapan datang lagi dengan dibukanya pendaftaran CPNS batch 2 dengan lebih banyak formasi.

Pembukaan pendaftaran CPNS di saat kontrak saya hampir habis ini seperti sebuah penguat alasan kenapa saya tidak melanjutkan kontrak di tempat kerja saya sebelumnya. Saya tidak akan menjelaskan detailnya, hanya saja memang saya semakin merasakan ketidakcocokan di akhir-akhir waktu saya bekerja di sana. Maka, ketika akhirnya saya bangun di hari Senin dan tidak harus masuk kerja, saya merasakan aroma kebebasan, sekaligus bibit-bibit kecemasan yang coba saya biarkan mengering dulu. Bagaimanapun, kebebasan harus dinikmati terlebih dahulu kan?

Jalan saya masih panjang, masih ada banyak hal yang harus dilalui untuk menemukan ending yang paling tepat untuk kehidupan karir saya (ecieh). Apakah selama seminggu lebih tidak bekerja, hidup saya berubah banyak? Sama sekali tidak hahaha. Bedanya cuma di jam dulu saya bekerja, saya sekarang sering melakukan hal-hal yang tidak penting dan memperbanyak tidur. Saya masih makan siang bareng teman-teman kantor yang dari dulu memang sering makan bareng saya. Saat ini saya sedang mengusahakan beberapa hal, mungkin termasuk dirimu (iya, kamu itu). Masa depan saya belum bisa diprediksi, namun semoga semua akan berakhir bahagia untuk kita semua. 

Kamis, 29 September 2016

City of Dream : Malang. Man of Dream : Who?

Sebagaimana Jogja telah menjadi tempat yang istimewa setelah + 5 tahun yang saya habiskan di sana, Malang selalu memiliki tempat di hati saya. Sebelum akhirnya saya dikirim-Nya untuk kuliah di Jogja, universitas yang pertama kali saya inginkan adalah Universitas Brawijaya, di Malang. Saya ingat sekali, saya mendaftar jalur PMDK dan memilih prodi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya. Itu adalah seleksi masuk perguruan tinggi pertama yang saya lakukan. Belum rezeki. Mungkin nilai saya kurang memenuhi kualifikasi yang diinginkan. Saat itu, ketika nama saya tidak tercatat di antara nama-nama yang lolos seleksi, ibu saya menangis. "Kamu mau kuliah dimana nak? Jangan sedih ya," kata beliau sambil berurai airmata, padahal saya malah nggak nangis. Eh, saya menangis sih, sendirian di tengah malam tapi haha.

Seleksi masuk kedua yang saya ikuti adalah UTUL (Ujian Tulis) UGM. Jaman saya, SNMPTN merupakan seleksi terakhir dengan kuota yang paling sedikit, tidak seperti sekarang, jadi rata-rata memang ujian mandiri dulu. Kebalikan dengan sekarang. Pilihan pertama saya saat itu tetap Perencanaan Wilayah dan Kota (nekad yey), kemudian Geografi dan Ilmu Lingkungan, lalu Kehutanan. Alhamdulillah saya diterima di pilihan kedua saya, yaitu prodi Geografi dan Ilmu Lingkungan, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada. Sesuatu yang akan saya syukuri seumur hidup saya, berada di sana dan bertemu dengan orang-orang yang berharga dalam hidup saya. Tapi itu cerita lain.

Balik lagi soal Malang, satu sahabat saya diterima di Universitas Negeri Malang, jadi bisa bayangkan betapa saya iri padanya saat awal-awal kuliah karena dia kuliah di Malang, kota yang saya inginkan, padahal saya sendiri kuliahnya di UGM. Hello, namanya juga cinta, logical reasoning mana jalan. Bukannya saya menganggap UGM lebih baik lho ya, tapi seharusnya saat itu saya lebih bersyukur bisa diterima di salah satu universitas terbaik negeri ini. Ketika akhirnya saya mulai betah dengan Jogja, saya kadang masih memikirkan Malang. Saya pernah mengunjungi Malang sekali saat saya masih kuliah, numpang di tempat teman saya tadi. Liburan. Tapi dia masih sibuk kuliah, jadi mainnya memang nggak total. 

Tahun terakhir saya kuliah (saat seharusnya saya sudah lulus), adik saya diterima di Universitas Brawijaya. Saya masih saja sedikit iri, padahal saya sudah mencintai Jogja. Habis itu kan mimpi lama saya! Setelah wisuda, saya mengalami banyak proses dalam mencari pekerjaan. Job fair ke job fair, website ke website, email ke email, surat lamaran ke surat lamaran, begitu-begitu terus selama hampir setahun. Saya pernah mengikuti dua buah job fair di Malang, satu di belakang MOG, satu lagi di Samantha Krida UB. Yah, walaupun sudah sempat main sih karena sudah ada adik saya hehe. Tetap belum rezeki. Ya sudahlah.

Tepat setahun setelah wisuda, saya ikut jadi pencacah lapangan (PCL) Sensus Ekonomi 2016 yang diadakan BPS. Saat itu saya stop dulu mengirimkan lamaran-lamaran kerja meskipun masih sering buka situs-situs lowongan kerja. Selesai itu, saya masih agak malas tulis-tulis lamaran lagi. Saya butuh istirahat. Menjadi pencari kerja itu melelahkan :)

Suatu hari di bulan Juli, sepertinya dini hari di hari terakhir Ramadhan, saya membuka situs jobstreet. Ada lowongan untuk Entry Data, di CV Indosoft, di Malang. Searching di google, sepertinya bukan perusahaan abal-abal. Akhirnya saya apply saja, meskipun kualifikasi pendidikan saya tidak sesuai. Jam 2 pagi. Menjelang sahur.

Siangnya, seperti layaknya hari terakhir puasa, kami serumah sibuk menyiapkan beragam hal untuk keesokan harinya a.k.a. Idul Fitri. Sekitar jam 11 siang handphone saya berdering, nomor yang tidak saya simpan. Ternyata dari CV Indosoft! Saya diminta datang untuk wawancara. Karena masih suasana libur, saya dijadwalkan wawancara minggu depan. Malang lho, Malang! Saya ingat, saat saya masih mencari kerja sana-sini, saya sempat nyeletuk, "Kuliahnya sudah di Jogja, nanti kerjanya di Malang saja". Kemudian harapan itu datang tanpa disangka.

Interview, tes payroll, di hari Senin. Menunggu pengumuman, katanya apabila diterima akan dikabari melalui telepon maksimal Jumat, 15 Juli 2016, jam 12 siang. Saya sampai tidak jadi ikut main teman saya karena takut kehilangan sinyal telepon. Lewat jam 12, tetap tidak ada telepon. Sisi hati saya sudah rela, tapi kok rasanya tidak lega bila tidak mendengar penolakannya secara langsung. Saya menelepon ke nomer telepon kantor yang pernah menelepon saya, dua kali karena HRD masih keluar. Akhirnya HRD-nya yang menelepon saya, mengatakan saya belum memenuhi kualifikasi. Saya berterimakasih. Penolakan seperti ini bukan hal yang baru buat saya :D

Takdir siapa yang tahu? Hari Senin berikutnya, tanggal 18 Juli 2016, nomor kantor itu menelepon saya lagi. Seperti sebuah keajaiban, "Masih mau bekerja di sini?". Saya mengiyakan, menjanjikan masuk 3 hari lagi karena saya perlu mencari kos. Selasa saya berangkat ke Malang, bermotor berdua dengan adik saya. Rabunya dapat kos. Kamis, 21 Juli 2016, saya masuk kerja untuk pertama kalinya. Meskipun statusnya masih pegawai training untuk 3 bulan ke depan, saya sangat bersyukur.



Hari ini, sudah lebih dari 2 bulan saya berada di sini, bekerja di sini, hidup di sini. Saya telah mulai mengenal jalanannya, makanannya, lalu lintasnya... Saya sudah mengunjungi beberapa tempat yang bagus. Memang belum tentu saya akan melanjutkan tinggal di sini untuk waktu yang lama kedepannya, tapi mimpi saya untuk hidup di sini, di Malang, telah tercapai. Kalaupun saya ditakdirkan untuk meninggalkannya lagi, saya akan dengan bangga mengatakan bahwa mimpi saya sudah pernah terwujud.

Saya menunggu 6 tahun untuk berada di sini, di kota impian saya. Berapa lama saya harus menunggu untuk pria impian saya? Tidak ada yang tahu. Memangnya dia siapa? Saya juga belum tahu. Mungkin kalau saya masih menggenggam harapan itu meskipun tidak seerat saat pertama kali memimpikannya, dia juga akan segera muncul dan mewujudkan dirinya. Alloh tahu jalan terbaik yang harus kami tempuh. Di suatu tempat, di galaksi ini, my cosmic love is rubbing his eyes, trying to figure out where he should go finding me)* ^^


)* inspired by Cosmic - Bada feat Ryeowook

Minggu, 22 Juni 2014

Sudut Pandang PBS (Pemilih Bukan Simpatisan)

Hangat. Panas. Ketika saya berharap situasi mendingin dengan adanya calon alternatif lain selain Jokowi dan Prabowo, suasana justru semakin kemebul. Partai-partai Islam yang katanya mau bikin koalisi sendiri ternyata terbagi-bagi ke dua kubu itu, berharap menjadi cawapres mungkin. Masih agak menyesalkan sih, padahal kalau suara dari partai-partai tersebut disatukan bisa didapatkan jumlah pemilih yang lumayan signifikan. Meskipun begitu, sepertinya dari sisi politik dan sisi lain-lainnya itu tidak bisa dilakukan, makanya tidak dilakukan. Sebenarnya agak-agak sebal sih melihat PPP yang sempat terbelah cuma gara-gara ada yang dukung salah satu capres dan ada yang tidak mendukung. Lha, kan bisa dirapatkan dulu, jangan langsung jadi headline news, malu kali :)

Suka tidak suka, capresnya cuma ada dua. Kemudian cawapres juga dipilih berdasarkan entahlah apa terserah partainya, lalu terbentuklah pasangan Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta. Dua pasangan tersebut kemudian mengambil nomor urut, hasilnya Prabowo-Hatta dapat nomor 1 dan Jokowi-JK dapat nomor 2. Ada debat pasangan tersebut. Wajar. Ada debat capresnya saja. Wajar. Tapi yang meramaikan justru debat pendukungnya. Baik itu di sosial media, warung kopi, teras tetangga, balai desa, pos ronda, dimana-mana. Panas. Panas.

Saya yang dari awal kurang begitu sreg dengan dua calon tersebut ( sampai sekarang juga belum sreg :D ) cuma bisa ngowoh kalau melihat Beranda halaman facebook saya. Beragam posting dari pendukung, simpatisan kedua belah pihak merajalela. Rendahin diri, ninggiin mutu. Ninggiin diri, rendahin yang lain. Dahsyat. Sampai terkaburkan mana fakta mana dusta, mana yang tulus dan mana akal bulus. Apalagi untuk saya yang tidak punya pengetahuan awal memadai tentang dua calon tersebut. Bagaikan masuk ke dalam labirin tak berujung :)

Lucunya, entah itu dari pusat entah itu inisiatif dari bawah, ada banyak "pengakuan" tentang sesuatu yang sama dari kedua belah pihak. Misalnya nih, pendukungnya Prabowo bilang Prabowo mirip Bung Karno, eh tapi pendukungnya Jokowi juga bilang kalau Jokowi mirip Bung Karno. Lalu setelah debat capres yang pertama itu, ada yang bilang Jokowi kalem dan tidak agresif. Eh yang lain lagi bilang Prabowo yang kalem dan nggak terpancing. Ini kan subyektif sangat. Bagaimana dengan nasib saya yang nggak punya TV? Saya harus percaya yang mana? Kalau kata ibu saya sih, Hatta Radjasa yang kalem...

Sebenarnya, ada untungnya juga saya tidak punya TV. Soalnya, menilik dari reaksi orang-orang, media sekarang jauh dari kesan netral. Maklum ye, yang punya stasiun TV orang-orang parpol, atau simpatisan parpol tertentu, jadi kalau menceng ke arah yang didukung ya mau bagaimana lagi, punya mereka ini stasiun TV-nya, bukan punya mbah saya :(

Apa sebenarnya yang paling mengganggu saya sebagai pemilih bukan simpatisan? Tidak lain tidak bukan adalah kampanye membabi buta yang sedikit banyak menjurus kepada black campaign. Saya sebagai penikmat facebook merasa tidak lagi nikmat lagi melihat orang-orang menshare artikel yang berisi kelemahan lawan. Pendukung Prabowo menshare kegagalan Jokowi. Pendukung Jokowi menshare masa lalu Prabowo. Lalu artikel lain lagi. Lalu pendapat pribadi. Lalu artikel. Entah itu artikel dari situs yang lumayan terkenal (tempo, republika, kompas, dll.) sampai blog-blog pribadi. Tidak habis-habis. Sampai terkaburkan mana fakta mana dusta, mana yang tulus dan mana akal bulus. Lebih miris lagi kalau yang menshare itu aktivis-aktivis yang menurut saya baik dan sholeh/sholehah. Mungkin tujuan mereka memang untuk memberi informasi pada umat agar tidak salah pilih karena dampaknya pasti besar untuk kehidupan kita semua 5 tahun ke depan. Tapi dengan membabi buta menyebarkan keburukan, yang belum pasti benar dan salahnya, kok rasanya kurang sreg saja, agak aneh saja. Mungkin itu cuma perasaan saya pribadi, tapi pada saat pemilu legislatif kemarin mereka-mereka ini tidak se"uwaw" ini kampanyenya. Tidak seaktif ini menyebarkan link-link yang sebagian besar berisi keburukan calon yang tidak didukungnya.

Saya kira, daripada menyebarkan keburukan lawan, lebih baik yang dishare adalah kelebihan calon yang didukung. Walaupun itu bisa dikategorikan "bragging", tapi paling tidak itu bukan "stabbing". Terlebih untuk mereka yang menurut saya baik dan sholeh/sholehah, sebisa mungkin jangan memperlihatkan "kebencian". Katanya rahmatan lil 'alamin? :)

Lalu, siapa yang akan saya pilih tanggal 9 Juli nanti?
Saya belum tahu. Masih ada sekitar tiga minggu untuk memikirkannya lebih matang :)

Kamis, 13 Maret 2014

Pelecehan Itu Menjijikkan

--repost tulisan saya tanggal 1 Januari 2012 di blog lama, dengan perubahan--


Sekuhara atau sexual harrassment atau pelecehan seksual adalah tindakan melecehkan secara seksual pada pria atau wanita yang dilakukan oleh orang-orang yang kehilangan sekrup otak dan hati (definisi menurut saya). Melecehkan, berarti melakukan perbuatan yang melukai harga diri orang lain, secara sengaja ataupun tidak. Melukai, bisa saja dianggap sebagai perbuatan kriminal. Tinggal luka yang ditimbulkan itu sebesar apa. Pelecehan seksual, atau "melukai harga diri seseorang secara seksual" tentu saja kriminal.


Indonesia sendiri, sepanjang tahun 1998 hingga 2011, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat terdapat 400.939 kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan. Dari jumlah itu, 93.960 kasus di antaranya merupakan kekerasan seksual. Komnas Perempuan mencatat, dari 93.960 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan, hanya 8.784 kasus yang datanya terpilah. Sisanya adalah gabungan dari kasus perkosaan, pelecehan seksual, dan eksploitasi seksual. dari 8.784 kasus kekerasan seksual yang datanya telah terpilah, perkosaan menempati urutan pertama (4.845), berikutnya perdagangan perempuan untuk tujuan seksual (1.359),pelecehan seksual (1.049), dan penyiksaan seksual (672).

Sesuai undang-undang, pelecehan terjadi apabila seorang wanita menganggap tindakan, baik perlakuan serta ucapan maupun isyarat tubuh si pelaku dianggap telah melanggar kesopanan dan yang terpenting sebagai seorang wanita tidak mengendaki perlakuan si pelaku tersebut, maka apabila pelecehan terjadi, perbuatan tersebut dapat diancam dengan ancaman hukuman seperti yang terdapat dalam Pasal-pasal berikut ini:
1. Pencabulan, diancam dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 289, 296;
2. Penghubungan Pencabulan KUHP pasal 295, 298, 506;
3. Kejahatan terhadap Kesopanan KUHP Pasal 281 - 299, 532, 533, dan lain-lain.

Dasar hukum itu seharusnya cukup untuk menjerat pelaku-pelaku pelecehan seksual. Namun karena pelecehan seksual itu biasanya dianggap aib, maka jarang kasus pelecehan seksual ini yang terungkap. Para korban seringkali memendam deritanya sendiri. Apalagi untuk pelecehan seksual yang sifatnya 'ringan' seperti dilihat, diraba dan diterawang, serta pelecehan-pelecehan verbal. Sedihnya, pelecehan ini tidak hanya menelan korban dari kalangan remaja tapi juga anak-anak. Dan kasus ini cukup banyak. Pada anak-anak, pelecehan seksual biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hubungan cukup dekat misalnya paman, om, tetangga, sepupu, bahkan ada pula kasus yang menempatkan kakak atau ayah korban sebagai pelaku (hsss, na'udzubillahi min dzalik!).

Mungkin ada yang berpikir, 'disuitin aja, paling sebenernya seneng'. Kalau korbannya remaja zaman sekarang, saat keran informasi entah benar atau salah dibuka lebar-lebar, saat pergaulan sudah tidak jelas batasnya, saat semuanya mengejar eksistensi diri, kadang pemikiran itu lumayan benar.  Ngg, tapi sebenarnya saya sedikit heran dengan mereka yang tidak mau dilecehkan oleh orang lain tapi mau-mau saja melakukan yang lebih dari itu dengan pacarnya yang bagaimanapun tetap saja orang lain bila dilihat dari statusnya yang bukan suami.

Namun coba dibayangkan kalau korbannya adalah bocah-bocah umur SD, yang karakter dasarnya belum terbentuk, yang hatinya masih bersih, yang pikirannya cuma bermain dan belajar (BOBO dong!). Satu saja peristiwa pelecehan seksual yang dialami, akan menjadi bekas seumur hidup bagi mereka. Peristiwa itu akan mempengaruhi perkembangan karakter si anak pada masa depan. Tentu saja bentuk pengaruh ini akan berbeda untuk setiap anak, karena setiap pribadi memiliki kekhasan sendiri meski lingkungan jelas mempengaruhi.
Perasaan yang muncul setelah mengalami pelecehan seksual (khususnya yang lebih dari verbal) adalah perasaan terhina yang sangat, merasa kotor, tidak berharga dan yang parah adalah "ingin mati saja".

Beberapa dampak yang mungkin muncul bagi seorang korban pelecehan seksual :
  • Trauma/takut : sesuatu yang wajar bila korban merasa sangat terluka psikisnya dengan pelecehan yang telah dialaminya. Perilaku yang muncul adalah trauma atau takut terhadap laki-laki, sehingga korban cenderung menutup diri. Bahkan perasaan "ingin mati saja" juga dapat muncul dari trauma yang mendalam terhadap pelecehan yang terjadi. Awas juga, adanya trauma yang dalam terhadap laki-laki dapat menjadikan seseorang menjadi lesbian.
  • Waspada : setingkat di bawah trauma, korban sudah dapat mengatasi ketakutannya akan laki-laki. Akan tetapi dia akan sangat membatasi pergaulannya dengan laki-laki. Dia merasa lebih aman bila berada dengan teman-teman perempuannya daripada bersama laki-laki. Hal ini baik, karena seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman buruk menjadikannya waspada sehingga tidak akan terulang.
  • Biasa saja : korban memiliki pikiran positif untuk maju ke depan. Masa lalu adalah masa lalu, sehingga masa kini dijalani sesuai dengan kondisi masa kini. Korban sama sekali tidak memiliki masalah untuk bergaul dengan laki-laki.
  • Kecanduan : korban merasakan kenikmatan ketika mengalami pelecehan seksual. Hal ini bisa saja terjadi, karena bentuk pelecehan itu beraneka ragam. Karena itu korban justru suka melakukan kegiatan-kegiatan seksual setelah mengalami pelecehan seksual. Hal ini juga tidak sehat, karena dapat memicu seks pra nikah dan perilaku-perilaku menyimpang lain.


Pelecehan seksual dapat kita hindari dan kita hindarkan (dari adik, saudara, teman perempuan kita) dengan beberapa cara, misalnya :

  1. Tidak memakai pakaian yang mengundang hasrat untuk melecehkan kita atau orang lain, misalnya kita lewat pakai mini skirt tapi lalu yang dilecehkan adalah orang yang lewat setelah kita gara-gara pelakunya jadi berhasrat setelah melihat kita *_*
  2. Menghindari tempat sepi saat sendirian, meski kita sering lewat situ dan aman-aman saja tapi who knows? Waspada lebih baik
  3. Memperhatikan keadaan dan orang-orang di sekitar kita, bukannya dipelototin satu-satu lho, tapi mengamati secara sekilas saja untuk mengenali kondisi sekitar
  4. Mengawasi orang yang bersama kita (misalnya adik, teman), maksudnya kita tidak masa bodoh dengan apa yang dilakukannya, kan tidak lucu kalau mereka mengalami pelecehan saat bersama kita tapi kita tidak tahu
  5. Menanamkan dalam pikiran bahwa wanita itu berharga bila terjaga, sehingga diri kita hanya boleh disentuh oleh yang berhak menyentuh, sehingga masing-masing pribadi akan menjaga dirinya dengan sendirinya

Bagaimanapun juga, pelecehan seksual juga merupakan suatu dosa bagi pelaku. Pelecehan seksual adalah perilaku menyimpang yang merugikan orang lain dan dapat memicu dosa-dosa lain seperti perzinaan dan perkosaan. Tidak ada orang yang suka dilecehkan, apalagi secara seksual. Jaga diri kita, saudara kita, teman-teman kita.


Wahai para pemuda! jika kamu telah sanggup untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu akan menjaga kehormatanmu. Kalau belum mampu, maka tundukkanlah pandanganmu dan berpuasalah. Karena itu adalah benteng bagi kamu . 
(HR Al Hakim)





beberapa yang saya baca saat membuat tulisan ini:
http://nasional.kompas.com/read/2011/11/24/21344444/Perkosaan..Kekerasan.Seksual.Terbanyak.di.Indonesia
http://www.kadnet.org/web/index.php?option=com_content&view=article&id=733:pelaku-pelecehan-seksual-dapat-dihukum&catid=91:advent-dan-hukum&Itemid=94